Tanggal 14 Juli 2024
Waktu Standar Indonesia
BMKG Provinsi Banten
Cepat, Akurat, dan Mudah Dipahami

Gempabumi Sumedang

BMKG Provinsi Banten > >

Gempa dengan kekuatan cukup besar mengguncang Sumedang, Jawa Barat, Minggu (31/12), yang menyebabkan kerusakan infrastuktur pada 12 kecamatan terdampak. Hingga Kamis (4/1) berdasarkan informasi yang terlampir dalam website Pemkab Sumedang terdapat total sekitar 1.325 bangunan rusak, baik rusak ringan, sedang hingga parah. Dari sudut pandang ilmiah, khususnya Geofisika, ada beberapa hal yang dapat kami sajikan terkait gempabumi Sumedang.

Gempabumi Sumedang yang terjadi pada tanggal 31 Desember 2023 pukul 20.34 WIB berkekuatan Magnitudo 4,8 SR. Sebelum terjadi gempabumi yang cukup besar, telah terjadi dua kali gempabumi pendahuluan. Yakni gempabumi dengan kekuatan Magnitudo 4.1 SR pada pukul 14.35 WIB  dan Magnitudo 3.4 SR pada pukul 15.38 WIB. Hingga 8 Januari 2023 tercatat sebanyak 20 kejadian gempabumi di Sumedang, 8 diantaranya dapat dirasakan oleh masyarakat. Guncangan gempabumi yang terjadi mencapai skala intensitas V-VI MMI, yakni gempabumi masuk kategori guncangan kuat.

Bagaimana gempabumi Sumedang bisa terjadi? Wilayah Jawa Barat merupakan kawasan aktif gempabumi tektonik. Hal ini disebabkan wilayah Jawa Barat berdekatan dengan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia di Samudera Hindia. Gempabumi di wilayah ini disebabkan oleh pergerakan lempeng di zona subduksi dan patahan atau sesar aktif yang ada di daratan. Di daerah Jawa Barat, terdapat sesar aktif yang sudah terpetakan. Meskipun demikian, ada beberapa sesar yang belum terpetakan. Gempabumi Sumedang dalam catatan BMKG termasuk gempabumi yang belum terpetakan.

Gempabumi Sumedang termasuk kategori dangkal dengan kedalaman 5 km sehingga cenderung merusak. Gempabumi ini termasuk gempa kerak dangkal akibat aktifitas sesar aktif yang cenderung mengarah ke utara-selatan. Berdasarkan sebaran episenter gempabumi, tatanan tektonik dan analisis sumber gempabumi, gempabumi sumedang disebabkan sesar aktif yang melewati Kota Sumedang dan belum terpetakan. Oleh karena itu, BMKG menyebut dengan nama “Sesar Sumedang”.

Dari sisi historis, gempabumi dengan kekuatan besar dan merusak di Sumedang sebelumnya pernah terjadi dua kali. Pertama, pada tanggal 14 Agustus 1955 yang menyebabkan kerusakan saat terjadi gempabumi secara tiba-tiba pada pukul 10.23 WIB. Gempabumi kategori swarm atau berulang-ulang ini belum terdeteksi besaran magnitudo dan kedalamannya. Kedua, gempabumi Magnitudo 4.5 dengan skala intensitas VI MMI pada tanggal 19 Desember 1972. Gempabumi ini menyebabkan banyak bangunan rusak dan terjadi tanah longsor di Cibunar, Rancakalong, Sumedang-Jawa Barat.

Dengan mengetahui sumber gempabumi, masyarakat dan pemerintah diharapkan dapat memahami bahaya dan risiko yang ditimbulkannya. Hal ini bertujuan agar masyarakat dapat memahami langkah mitigasi bencana dengan menyempurnakan tata ruang wilayah dan memperkuat peraturan bangunan atau infrastuktur. Jika Gempabumi terasa kuat, lakukan perlindungan diri dan evakuasi mandiri. Menjauhi bangunan yang sudah retak atau rawan roboh. Selain itu, diharapkan dapat menghindari daerah rawan longsor. Masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan terkait gempabumi bisa masyarakat dapatkan pada semua platform media yang dimiliki BBMKG Wilayah II.

Bagikan Infografis ini melalui :

Rincian Infografis